Hoaks dan Ujaran Kebencian terhadap Warga Asing di Jepang Meningkat di Media Sosial

Bagi orang Indonesia yang ingin bekerja, belajar, atau tinggal di Jepang, memahami kehidupan di negara tersebut tidak cukup hanya dari sisi pekerjaan, gaji, dan budaya. Perkembangan media sosial juga menunjukkan adanya tantangan lain yang perlu dipahami oleh warga asing, yaitu penyebaran hoaks dan ujaran kebencian terhadap orang asing.

Sebuah laporan media Jepang menyoroti bagaimana informasi yang tidak benar dapat menyebar dengan cepat melalui media sosial dan kemudian memicu komentar diskriminatif terhadap warga asing.

Video Masjid di Osaka Disebut Berisik Pukul 4 Pagi, Ternyata Hoaks

Pada Desember lalu, sebuah video menyebar luas melalui X, platform yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter.

Video tersebut memperlihatkan suara musik yang keluar dari pengeras suara di atas sebuah bangunan di Osaka. Dalam video yang beredar, ditambahkan keterangan bahwa suara tersebut terjadi pada pukul 4 pagi, sangat keras, dan mengganggu warga sekitar.

Beberapa akun bahkan mengklaim bahwa suara tersebut merupakan azan dari sebuah masjid di Osaka.

Unggahan itu kemudian menyebar dengan cepat. Salah satu unggahan dilaporkan mendapatkan lebih dari 10.000 repost dan sekitar 700.000 tayangan.

Setelah video tersebut viral, muncul berbagai komentar bernada kebencian terhadap Muslim dan warga asing, termasuk sebutan seperti “penjahat”, “setan”, hingga penghinaan terhadap orang asing yang tinggal di Jepang.

Namun setelah diperiksa, informasi dalam video tersebut ternyata tidak benar.

Video Sebenarnya Direkam pada Sore Hari

Masjid yang disebut dalam unggahan tersebut adalah Masjid Istiqlal Osaka, yang berada di Nishinari, Osaka.

Perwakilan masjid, Herizal Adaldei, seorang warga Indonesia yang datang ke Jepang pada tahun 2000, menjelaskan bahwa video tersebut sebenarnya direkam sekitar tiga tahun sebelumnya.

Video itu direkam pada sore hari, bukan pukul 4 pagi.

Pengeras suara yang terlihat dalam video juga bukan digunakan untuk azan setiap hari. Menurut penjelasan pihak masjid, pengeras suara tersebut disiapkan untuk kebutuhan darurat seperti bencana dan pada saat video direkam sedang dilakukan pengujian.

Wartawan yang memeriksa video tersebut juga menemukan bahwa cahaya matahari datang dari arah barat, sehingga secara visual video tersebut jelas tidak direkam pada pukul 4 pagi.

Warga dan tempat usaha di sekitar lokasi juga mengaku tidak pernah mengalami gangguan suara seperti yang disebutkan dalam unggahan media sosial tersebut.

Masjid Menerima Telepon Bernada Kebencian

Meski informasi tersebut tidak benar, dampaknya sudah terjadi.

Pihak masjid dilaporkan menerima telepon yang berisi teriakan agar mereka “keluar” dari Jepang.

Herizal mengatakan bahwa masyarakat sebaiknya tidak langsung mengambil kesimpulan berdasarkan rumor di media sosial.

Menurutnya, informasi seharusnya diperiksa terlebih dahulu sebelum dipercaya atau disebarkan karena kata-kata yang sudah terlanjur diucapkan dapat melukai orang lain dan sulit ditarik kembali.

Hoaks tentang Warga Asing Semakin Banyak

Kasus tersebut bukan satu-satunya.

Di media sosial Jepang juga beredar berbagai informasi yang menyudutkan warga asing, seperti tuduhan bahwa Muslim membakar kuil atau tempat produksi sake hingga klaim bahwa warga Tiongkok membeli dan menguasai sumber air di Wakayama.

Informasi seperti ini sering kali disebarkan oleh beberapa akun, kemudian diunggah ulang secara berantai sehingga dalam waktu singkat dapat menjangkau banyak orang.

Masalahnya, unggahan seperti ini sering diikuti komentar yang menyerang kelompok tertentu berdasarkan kewarganegaraan, agama, atau asal mereka.

Unggahan Kebencian terhadap Warga Asing Meningkat Tajam

Berdasarkan analisis menggunakan layanan pemantauan media sosial Social Insight, jumlah unggahan di X yang mengandung kata “orang asing” serta ungkapan seperti “mati” atau “pulang” mencapai sekitar 470.000 unggahan pada 2025.

Jumlah tersebut disebut lebih dari 10 kali lipat dibandingkan tahun 2022.

Data itu menunjukkan bahwa ujaran kebencian terhadap warga asing di dunia maya Jepang mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Survei yang dilakukan oleh Badan Layanan Imigrasi Jepang terhadap warga asing juga menunjukkan bahwa sekitar 43% responden pernah mengalami, melihat, atau mendengar ujaran kebencian.

Dari kelompok tersebut, sekitar 70% mengaku mengalaminya melalui internet.

Apa Artinya bagi Orang Indonesia yang Ingin Tinggal di Jepang?

Informasi seperti ini bukan berarti Jepang adalah negara yang tidak aman atau masyarakat Jepang secara umum menolak warga asing.

Jepang tetap menjadi salah satu tujuan utama bagi banyak orang Indonesia untuk bekerja, belajar, dan membangun pengalaman internasional. Jumlah warga asing yang tinggal dan bekerja di Jepang juga terus menjadi bagian penting dalam berbagai sektor industri.

Namun, kasus ini menjadi pengingat bahwa kehidupan di Jepang tidak hanya terdiri dari pengalaman positif yang sering terlihat di media sosial.

Calon pekerja Indonesia juga perlu memahami bahwa diskriminasi, kesalahpahaman budaya, dan ujaran kebencian tetap dapat terjadi, terutama di dunia maya.

Karena itu, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh orang Indonesia yang berencana bekerja atau tinggal di Jepang:

  • Jangan langsung mempercayai informasi viral tentang warga asing di Jepang.
  • Periksa sumber berita sebelum membagikan informasi.
  • Hindari membalas komentar provokatif dengan emosi.
  • Pelajari budaya, aturan, dan cara berkomunikasi di lingkungan Jepang.
  • Jika mengalami diskriminasi atau ancaman serius, simpan bukti seperti tangkapan layar atau rekaman komunikasi.
  • Jika masalah berkaitan dengan pekerjaan, konsultasikan dengan perusahaan, lembaga pendamping, organisasi pengawas, atau instansi terkait.

Media Sosial Tidak Selalu Menggambarkan Jepang yang Sebenarnya

Bagi calon pekerja Indonesia, penting untuk tidak membangun gambaran tentang Jepang hanya berdasarkan konten yang viral di TikTok, X, YouTube, atau media sosial lainnya.

Informasi yang menimbulkan kemarahan atau kontroversi biasanya lebih cepat menyebar dibandingkan informasi yang biasa-biasa saja. Akibatnya, satu kejadian dapat terlihat seolah-olah mewakili seluruh masyarakat Jepang, padahal kenyataannya belum tentu demikian.

Sebaliknya, informasi negatif mengenai warga asing juga dapat diperbesar dan digunakan untuk membentuk persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Karena itu, kemampuan untuk memeriksa informasi menjadi semakin penting, terutama bagi orang Indonesia yang berencana tinggal dalam jangka panjang di Jepang.

Bekerja di luar negeri bukan hanya soal menguasai bahasa dan keterampilan pekerjaan. Memahami masyarakat, budaya digital, serta cara menghadapi perbedaan juga menjadi bagian penting dari persiapan hidup di Jepang.

Sumber: https://www.yomiuri.co.jp/local/kansai/news/20260921-GYO1T00069/

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close