MIYAZAKI – Sebanyak 11 pekerja asal Indonesia yang bekerja di Kota Nichinan, Prefektur Miyazaki, mengikuti pelatihan bahasa Jepang dan dialek lokal Miyazaki. Kegiatan ini bertujuan membantu mereka tidak hanya memahami bahasa yang digunakan dalam pekerjaan, tetapi juga berkomunikasi lebih dekat dengan masyarakat setempat.
Pelatihan tersebut diselenggarakan di Yoshida Sangyo, sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pengolahan kayu dan pembuatan produk berbahan kayu. Seluruh peserta merupakan warga negara Indonesia yang bekerja di Jepang dengan status izin tinggal Tokutei Ginou atau Pekerja Berketerampilan Spesifik.
Sebagian peserta baru bekerja selama satu bulan sejak bergabung dengan perusahaan. Dalam kesehariannya, mereka melakukan berbagai pekerjaan, seperti mengolah kayu dan memproduksi barang-barang berbahan kayu.
Para pekerja Indonesia tersebut berusia antara 19 hingga 30 tahun dan memiliki status Tokutei Ginou Nomor 1. Dengan status tersebut, mereka dapat bekerja di Jepang selama maksimal lima tahun. Di Yoshida Sangyo, kontrak kerja mereka diperbarui setiap satu tahun dan mereka turut mendukung industri manufaktur di wilayah tersebut.
Sebelum datang ke Jepang, para peserta telah mempelajari bahasa Jepang. Namun, dalam pelatihan kali ini, mereka tidak hanya mempelajari kosakata pekerjaan, tetapi juga komunikasi di tempat kerja, tata krama bisnis, dan cara berinteraksi dengan rekan kerja Jepang.
Salah satu materi yang diberikan adalah cara memberikan salam dengan sopan.
“Ketika memberikan salam, lakukan dengan melihat mata lawan bicara.”
Pada akhir pelatihan, para pekerja Indonesia juga mengikuti kelas khusus dialek Miyazaki. Dalam sesi tersebut, mereka mempelajari sejumlah kata yang sering digunakan oleh masyarakat setempat dalam percakapan sehari-hari.
Kata “tege” dalam dialek Miyazaki memiliki arti “sangat”.
Sementara itu, “donge?” berarti “bagaimana?” dan “achii” berarti “panas”.
Mereka juga diminta mempelajari bagaimana masyarakat Miyazaki mengungkapkan berbagai kondisi, termasuk saat merasa sangat dingin.
Setelah mempelajari kosakata tersebut, para peserta mempraktikkannya melalui percakapan.
“Donge shita to?”
“Ada apa?”
“Onaka ga tege itai.”
“Perut saya sangat sakit.”
“Nani tabeta to?”
“Kamu makan apa?”
“Wakaran.”
“Tidak tahu.”
Melalui latihan tersebut, para pekerja Indonesia belajar menggunakan dialek lokal dalam situasi percakapan sehari-hari.
Salah satu peserta, Alex, 23 tahun, mengaku baru pertama kali mempelajari dialek Miyazaki.
“Saya belum pernah belajar dialek Miyazaki sebelumnya, jadi hari ini saya dapat mempelajari sesuatu yang baru. Karena semua teman saya baik, saya ingin lebih giat belajar bahasa Jepang,” ujarnya.
Peserta lainnya, Arim, 26 tahun, mengatakan bahwa ia juga dapat mempelajari bahasa hormat atau keigo dalam pelatihan tersebut.
“Saya juga dapat mempelajari bahasa hormat dan ternyata sangat menarik. Target saya bekerja di sini adalah agar dapat berbicara bahasa Jepang dengan lancar,” katanya.
Kepala Departemen Umum dan Sumber Daya Manusia Yoshida Sangyo, Mayumi Sakamoto, menjelaskan bahwa mengajarkan bahasa Jepang kepada pekerja asing bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, perusahaan memutuskan meminta bantuan pihak luar untuk menyelenggarakan pelatihan tersebut.
“Mengajarkan bahasa Jepang merupakan hal yang sangat sulit. Karena itu, kami ingin mendapatkan bantuan dari pihak luar dan mencoba menyelenggarakan kegiatan ini. Kami berharap kemampuan bahasa Jepang mereka dapat segera meningkat dan mereka dapat bekerja dengan akrab bersama para pekerja Jepang,” ujarnya.
Bagi para pekerja Indonesia, memahami bahasa Jepang saja belum tentu cukup untuk membangun hubungan yang dekat dengan masyarakat di daerah tempat mereka tinggal dan bekerja.
Dengan mempelajari dialek Miyazaki, mereka diharapkan dapat lebih mudah memahami percakapan sehari-hari, berkomunikasi dengan rekan kerja, dan semakin dekat dengan masyarakat lokal.
Pelatihan tersebut menunjukkan bahwa proses adaptasi pekerja Indonesia di Jepang tidak hanya dilakukan melalui keterampilan kerja, tetapi juga melalui pemahaman terhadap bahasa, budaya, dan kebiasaan masyarakat setempat.
