Seorang pekerja asal Indonesia berusia 22 tahun berhasil meraih penghargaan tertinggi dalam kontes pidato bahasa Jepang bagi pekerja asing yang digelar di Aula Kebudayaan Masyarakat Kota Sasebo, Prefektur Nagasaki, pada tanggal 8. Ia bekerja di sebuah fasilitas kesejahteraan sosial di Kota Kurume, Prefektur Fukuoka, dan dinobatkan sebagai penerima Penghargaan Emas atau juara utama.
Kontes tersebut diikuti oleh sembilan peserta asal Indonesia dan Myanmar yang bekerja di fasilitas perawatan lansia di wilayah Kyushu. Para peserta merupakan pemegang status pemagang teknis dan Tokutei Ginou atau Pekerja Berketerampilan Spesifik.
Acara ini diselenggarakan oleh sebuah organisasi pengawas yang menangani penerimaan pekerja asing. Kontes tersebut menjadi bagian dari program pendidikan bahasa Jepang sekaligus sarana untuk meningkatkan pemahaman multikultural di lingkungan kerja.
Dengan tema “Hal-Hal Baik dari Negara Kami yang Ingin Diketahui Masyarakat Jepang”, para peserta memperkenalkan keindahan alam, budaya, tradisi, serta kehidupan masyarakat di negara asal mereka.
Salah satu peserta asal Indonesia menjelaskan bahwa meskipun Indonesia memiliki beragam bahasa dan agama, masyarakatnya tetap saling menghargai perbedaan dan hidup bersama dengan harmonis.
Sementara itu, peserta yang meraih juara utama memperkenalkan Kepulauan Mentawai, daerah asalnya di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Mentawai mungkin tidak memiliki gedung tinggi, kereta yang ramai, bahkan akses internet terkadang sulit dijangkau. Namun, wilayah tersebut memiliki laut yang indah, alam yang masih kaya, serta hubungan yang hangat antarsesama masyarakat.
Ia juga menceritakan kepercayaan masyarakat Mentawai yang menganggap pohon sebagai makhluk hidup. Sebelum menebang pohon, masyarakat terlebih dahulu melakukan ritual dan berdoa di hadapan pohon tersebut.
“Kami akan mengambil kehidupanmu. Tolong lindungi rumah kami.”
Tradisi itu dilakukan karena pohon dipercaya memiliki kehidupan seperti manusia. Selain itu, ia turut memperkenalkan budaya tato tradisional Mentawai yang memiliki nilai keindahan dan makna khusus bagi masyarakat setempat.
Meskipun baru memasuki tahun pertama tinggal di Jepang, pekerja Indonesia tersebut mampu menyampaikan pidatonya dengan bahasa Jepang yang lancar, disertai ekspresi serta gerakan tubuh yang menarik perhatian penonton dan dewan juri.
Ia mengatakan ingin terus memperkenalkan daya tarik Mentawai yang belum banyak dikenal masyarakat Jepang. Ke depannya, ia juga bertekad meningkatkan kemampuan bahasa Jepang dan meraih kualifikasi sebagai kaigo fukushishi atau pekerja perawatan lansia bersertifikat.
Kontes ini tidak hanya menjadi ajang untuk menguji kemampuan bahasa Jepang, tetapi juga memberi kesempatan kepada para pekerja asing untuk memperkenalkan identitas dan kebudayaan negara asalnya. Melalui pidato para peserta, masyarakat diharapkan semakin memahami keberagaman budaya para pekerja asing yang tinggal dan bekerja di Jepang.
