Jepang semakin serius membuka peluang bagi pekerja asing di bidang houmon kaigo, yaitu layanan kaigo kunjungan rumah. Kebijakan ini berjalan karena Jepang menghadapi kekurangan tenaga helper yang sangat serius, terutama untuk merawat lansia di rumah masing-masing.
Salah satu contoh yang menarik perhatian adalah seorang helper asal Indonesia bernama Irnawati, 28 tahun. Ia datang ke Jepang pada tahun 2023 dengan status tokutei ginou dan sebelumnya bekerja di fasilitas lansia berbayar di Osaka. Setelah sekitar dua tahun bekerja, ia pindah ke perusahaan LogiCare di Hyogo, yang banyak menangani layanan houmon kaigo.
Dalam pekerjaannya, Irnawati mengunjungi sekitar tujuh sampai delapan rumah per hari menggunakan sepeda listrik. Tugasnya tidak hanya membantu kebutuhan pengguna layanan, tetapi juga membersihkan rumah, memasak, menjaga etika saat masuk ke rumah pengguna, dan berkomunikasi langsung dengan lansia.
Bidang houmon kaigo berbeda dengan kaigo di fasilitas. Di fasilitas, pekerja biasanya bekerja bersama banyak staf lain. Namun dalam houmon kaigo, helper sering datang sendiri ke rumah pengguna layanan. Karena itu, kemampuan bahasa Jepang, etika, ketelitian, dan kemampuan memahami budaya Jepang menjadi sangat penting.
Sebelum bekerja sendiri, Irnawati mengikuti pelatihan di perusahaan. Ia belajar cara memasak menggunakan bumbu Jepang seperti shoyu dan mirin, cara membersihkan rumah, serta tata krama seperti merapikan sepatu di pintu masuk. Setelah menjalani pelatihan kunjungan bersama penanggung jawab, barulah ia mulai menangani pengguna layanan secara mandiri.
Menariknya, penerimaan masyarakat terhadap helper asing mulai meningkat. Di perusahaan tempat Irnawati bekerja, pada awalnya hanya sekitar 30 persen keluarga pengguna layanan yang bersedia menerima staf asing. Namun kini jumlahnya naik menjadi sekitar 60 persen. Salah satu pengguna layanan bahkan menilai pekerjaan Irnawati sangat teliti dan komunikasinya lancar, sehingga tidak terasa berbeda dengan staf Jepang.
Kehadiran pekerja Indonesia di bidang ini menjadi penting karena jumlah pekerja asing kaigo dari Indonesia terus meningkat. Pada akhir tahun 2025, pekerja tokutei ginou di bidang kaigo mencapai 67.871 orang. Indonesia menjadi negara penyumbang terbesar dengan 21.139 orang, diikuti Myanmar dan Vietnam.
Namun peluang ini juga memiliki tantangan. Pemerintah Jepang menetapkan syarat agar pekerja asing yang masuk ke houmon kaigo memiliki pengalaman kerja minimal satu tahun dan mengikuti pelatihan kunjungan bersama penanggung jawab. Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas layanan, karena pekerjaan dilakukan langsung di rumah pengguna dan sering kali tanpa pendamping.
Bagi kandidat Indonesia, houmon kaigo bisa menjadi peluang baru yang besar. Tetapi persiapannya harus lebih matang dibandingkan bekerja di fasilitas. Kandidat tidak cukup hanya lulus ujian tokutei ginou kaigo. Mereka juga perlu memiliki kemampuan komunikasi, memahami budaya rumah tangga Jepang, menjaga privasi pengguna layanan, serta mampu bekerja mandiri.
Di sisi lain, perusahaan Jepang juga harus menyiapkan sistem pendampingan yang baik. Pekerja asing perlu dibekali pelatihan, dukungan komunikasi, sistem darurat, dan perlindungan dari masalah ketenagakerjaan. Sebab, dalam pemeriksaan pemerintah Jepang pada tahun 2024, hampir 80 persen tempat kerja yang mempekerjakan pekerja tokutei ginou ditemukan memiliki pelanggaran hukum ketenagakerjaan, termasuk lembur ilegal dan upah lembur yang tidak dibayarkan.
Dengan meningkatnya kebutuhan tenaga kaigo di Jepang, pekerja Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dalam bidang houmon kaigo. Namun peluang ini harus diikuti dengan persiapan bahasa, skill kaigo, etika kerja, dan perlindungan kerja yang kuat agar pekerja Indonesia tidak hanya diterima, tetapi juga bisa bertahan dan berkembang di Jepang.
Sumber: https://www.yomiuri.co.jp/yomidr/article/20260511-GYTET00001/
