IKUSEI SHUROU: Langkah Jepang Perbaiki Sistem bagi Tenaga Kerja Asing

Di Kota Ebino, Prefektur Miyazaki, Tachikui Farm yang membudidayakan sayuran seperti bayam dan talas, menjadi salah satu contoh nyata peran besar pekerja asing dalam pertanian Jepang. Di kebun ini, terdapat 16 orang asal Indonesia yang bekerja, dan 12 di antaranya merupakan peserta program magang (ginō jisshūsei).

Para pekerja ini menyebut bahwa mereka menikmati lingkungan kerja yang baik dan aturan yang jelas. “Perusahaannya baik, semua orang ramah, jadi saya ingin bekerja di sini lama,” ujar salah satu di antara mereka. Ada pula yang mengatakan ingin belajar banyak tentang pertanian dan teknologi Jepang yang belum banyak dikenal di Indonesia.

Presiden Tachikui Farm, Yoshifumi Tachikui, mengaku para pekerja asing tersebut sangat membantu. “Mereka datang dengan semangat tinggi untuk bekerja di Jepang. Mereka benar-benar tenaga yang bisa diandalkan,” ujarnya.

Menurut data, terdapat sekitar 1.506 perusahaan di Prefektur Miyazaki yang mempekerjakan tenaga kerja asing. Namun, sistem ginō jisshū (magang keterampilan) yang telah berjalan sejak 1993 kini akan digantikan oleh sistem baru, yaitu Ikusei Shūrō Seido (sistem pekerjaan pengembangan keterampilan) dalam dua tahun ke depan.

Menurut pakar pendamping pekerja asing, Seiichirō Dokyu, sistem magang awalnya dibuat untuk “kontribusi internasional,” yaitu dengan melatih warga negara dari negara berkembang menggunakan teknologi Jepang. Namun, seiring waktu, tujuan itu bergeser: banyak perusahaan yang memperlakukan peserta magang hanya sebagai tenaga kerja sementara, dengan berbagai kasus seperti upah tidak dibayar, perlakuan tidak pantas, hingga diskriminasi.

Sistem Ikusei Shūrō diharapkan menjadi solusi dari berbagai masalah tersebut. Salah satu perubahan penting adalah diperbolehkannya perpindahan tempat kerja antar perusahaan — hal yang sebelumnya dilarang dalam sistem magang.

Namun, kebijakan ini juga memunculkan kekhawatiran di daerah pedesaan seperti Miyazaki. Dokyu memperingatkan bahwa kebebasan pindah kerja dapat menyebabkan arus pekerja menuju kota besar dengan gaji lebih tinggi. “Kemungkinan besar, banyak yang akan memilih pindah ke daerah perkotaan,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal ini, Tachikui menekankan pentingnya hubungan manusiawi. “Saya menganggap para pekerja asing seperti anak sendiri. Yang paling penting adalah memperlakukan mereka setara dengan orang Jepang,” katanya.

Dokyu menambahkan bahwa bukan hanya perusahaan, tetapi masyarakat lokal juga perlu berubah. “Kita harus membangun budaya yang menerima keragaman dan menjadikan Jepang negara yang dipilih dunia,” ujarnya.

Di tengah krisis tenaga kerja yang terus berlanjut, jumlah pekerja asing di Jepang diperkirakan akan semakin meningkat. Dengan beralihnya sistem ke Ikusei Shūrō, tantangan ke depan bukan hanya pada aturan baru, tetapi juga pada kesiapan seluruh masyarakat Jepang untuk benar-benar menerima dan hidup berdampingan dengan para pekerja dari luar negeri.

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close