Indonesia Geser Vietnam, Jadi Negara Terbanyak Kirim Pemagang Konstruksi ke Jepang

Organisasi Pelatihan Teknis Internasional Jepang (OTIT) melaporkan bahwa jumlah rencana pelatihan teknis bidang konstruksi dari peserta magang asal Indonesia pada tahun fiskal 2024 mencapai 32.053 kasus, menjadikan Indonesia untuk pertama kalinya sebagai negara pengirim terbanyak sejak program magang teknis dimulai di Jepang.

Sebelumnya, posisi teratas selalu ditempati oleh Vietnam, namun pada tahun 2024 jumlah pengesahan baru dari negara tersebut turun menjadi 24.490 kasus, sekitar 30,6% dari total. Sebaliknya, Indonesia kini menempati 40,1% dari keseluruhan rencana pelatihan teknis baru di bidang konstruksi.

Peningkatan tajam peserta magang asal Indonesia ini mulai terlihat sejak tahun fiskal 2022. Dibanding tahun sebelumnya, angka 2024 naik 17,2%. Faktor utamanya adalah besarnya proporsi penduduk muda di Indonesia—lebih dari separuh berusia antara 15 hingga 32 tahun—serta tingkat pengangguran yang masih tinggi. Di tengah keterbatasan lapangan kerja dalam negeri, pemerintah dan lembaga pengirim tenaga kerja terus mendorong masyarakat untuk bekerja di luar negeri, termasuk ke Jepang.

Bidang konstruksi menjadi sektor yang paling diminati oleh calon pemagang asal Indonesia, mencakup 38,5% dari seluruh rencana magang baru. Meskipun di Indonesia masih ada pandangan bahwa pekerjaan konstruksi berisiko tinggi, banyak calon tenaga kerja yang tetap tertarik karena gaji dan fasilitas di Jepang dianggap lebih baik.

Pihak lembaga pengirim tenaga kerja di Indonesia menyebutkan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana mengubah persepsi negatif mengenai pekerjaan konstruksi serta memastikan perlindungan dan kesejahteraan tenaga kerja di Jepang. Jika Jepang mampu menunjukkan standar kerja dan perlakuan yang baik, diharapkan minat tenaga kerja Indonesia untuk bekerja di sektor ini dapat terus meningkat secara berkelanjutan.

Selain Indonesia dan Vietnam, negara lain yang banyak mengirim pemagang di bidang konstruksi antara lain Filipina (8.140 kasus), Myanmar (5.547 kasus), Kamboja (2.893 kasus), dan Tiongkok (1.964 kasus). Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah dari Filipina dan Myanmar menunjukkan tren meningkat, sementara Tiongkok yang sempat mendominasi pada awal pelaksanaan program kini mengalami penurunan dan cenderung stagnan.

Sumber: https://digital.kentsu.co.jp/articles/artcl_rglr/01K73PPFHKEBGBB198Y15KQ184

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close