Bekerja di negeri orang tentu menghadirkan berbagai tantangan adaptasi, terutama soal bahasa. Hal inilah yang dirasakan oleh Rosida, seorang peserta magang teknis asal Indonesia yang telah mengabdi selama tiga tahun di sebuah fasilitas perawatan lansia di Distrik Saeki, Kota Hiroshima.
Meski telah rajin mempelajari bahasa Jepang standar sebelum menginjakkan kaki di Negeri Sakura, Rosida dihadapkan pada realitas lapangan yang tak terduga. Di tempat kerjanya, bahasa standar tersebut nyaris tidak terdengar. Sebaliknya, komunikasi sehari-hari didominasi oleh Dialek Hiroshima yang kental dan diucapkan langsung oleh para lansia.
“Waktu pertama kali datang, saya banyak mendengar ragam Dialek Hiroshima dari para lansia pengguna fasilitas, tapi saya tidak paham,” ungkap Rosida.
Hal ini menjadi rintangan tersendiri. Rosida kerap harus berusaha ekstra keras menyambungkan kata demi kata yang dimengertinya di dalam pikiran untuk bisa merangkai dan memahami isi percakapan secara utuh. Beberapa istilah daerah yang kerap membuat staf asing kebingungan di antaranya adalah kata “Taigi” yang berarti melelahkan, atau “Tegoshite” yang berarti meminta bantuan.
Melihat tingginya kebutuhan tenaga kerja asing di sektor keperawatan lansia sekaligus menyadari rintangan bahasa yang ada, Pemerintah Kota Hiroshima pun turun tangan. Mereka meluncurkan sebuah inovasi berupa “Buku Panduan Dialek Hiroshima”.
Buku panduan ini dirancang khusus untuk membantu perawat asing dengan merangkum 68 kosakata krusial yang berkaitan dengan gerakan, tindakan, perasaan, dan kondisi yang paling sering diucapkan di lapangan. Tidak hanya memuat teks, panduan ini sangat ramah pengguna karena dilengkapi dengan ilustrasi situasi, contoh kalimat, hingga fitur audio yang memungkinkan penggunanya mendengarkan pelafalan Dialek Hiroshima secara langsung dari penduduk asli.
Bagi pekerja seperti Rosida, kehadiran buku panduan ini layaknya oase di tengah kesulitan. Ia kini sangat giat mempelajari dialek lokal berbekal panduan tersebut.
“Ini sangat membantu dan menjadi bahan belajar yang bagus. Karena dilengkapi dengan ilustrasi dan contoh kalimat, buku ini jadi sangat mudah dipahami,” puji Rosida atas inisiatif tersebut.
Inisiatif Pemerintah Kota Hiroshima ini diharapkan dapat meruntuhkan kendala bahasa yang selama ini membayangi para tenaga kesehatan dari luar Jepang. Dengan adanya fasilitas seperti ini, diharapkan para pekerja asing, termasuk talenta-talenta dari Indonesia, dapat bekerja dengan lebih nyaman dan semakin mantap menjadikan sektor keperawatan Jepang sebagai pilihan karir yang menjanjikan di masa depan
