Seorang tenaga kerja asal Indonesia menjadi salah satu sosok penting di sebuah panti jompo di Prefektur Kyoto, Jepang. Alfi Shafrin (34), warga Indonesia yang bekerja di fasilitas lansia khusus “Mizuho Yamabikoen” di Kyotanba, dikenal karena kepiawaiannya merawat penghuni lansia, kemampuan bahasa Jepangnya yang fasih, serta perannya sebagai pemimpin di antara staf asing.
Dalam pekerjaannya sehari-hari, Alfi menangani para lansia dengan penuh kelembutan. Saat menghadapi penghuni yang sulit mendengar, ia mendekatkan wajah ke telinga mereka dan berbicara pelan dalam bahasa Jepang yang lancar. Saat membantu lansia berpindah dari kursi roda, ia juga memastikan kondisi mereka dengan penuh perhatian. Menurut Alfi, meski penghuni yang mengalami demensia kadang tidak membalas ucapan, perasaan terima kasih tetap bisa dirasakan. Ia mengaku justru di situlah letak makna pekerjaannya.
Kehadiran Alfi mendapat penilaian tinggi, baik dari penghuni fasilitas maupun rekan kerja Jepang. Seorang lansia perempuan berusia 80-an menyebut Alfi sebagai “guru”, karena ia sering sigap mencarikan arti kata yang tidak dipahami lewat ponsel. Rekan kerja Jepang pun terkesan karena Alfi dapat membantu menjelaskan nama-nama penyakit penghuni dengan kanji.
Yang menarik, fasilitas tempat Alfi bekerja kini sangat bergantung pada tenaga asing, khususnya dari Indonesia. Dari total 18 staf asing di sana, 8 orang berasal dari Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai kelompok terbesar. Jumlah seluruh staf asing bahkan sudah melampaui staf Jepang yang hanya berjumlah 10 orang. Kepala fasilitas setempat menilai Alfi bukan hanya pekerja yang andal, tetapi juga sosok yang dipercaya untuk membimbing staf baru, terutama dalam memahami perbedaan budaya. Ia pun disebut sebagai pemimpin staf asing di fasilitas tersebut.
Perjalanan Alfi ke Jepang dimulai karena dorongan keluarga. Ia ingin bekerja di luar negeri, dan orang tuanya menyarankan Jepang karena dianggap aman serta memiliki kebutuhan tinggi di bidang perawatan lansia. Melalui skema kerja sama ekonomi Indonesia–Jepang (EPA), Alfi datang ke Jepang pada 2012 sebagai kandidat care worker. Setelah sempat bekerja di Okayama dan kembali ke Indonesia pada 2017, ia datang lagi ke Jepang pada 2020 dengan status Tokutei Ginou. Setahun kemudian ia mulai bekerja di fasilitas saat ini, lalu pada tahun berikutnya berhasil lulus ujian sertifikasi care worker di Jepang.
Kisah Alfi juga menunjukkan besarnya peran tenaga kerja Indonesia dalam menopang sektor perawatan di Jepang, terutama di daerah. Di wilayah Tanba, jumlah pekerja asing di sektor kaigo dengan status Tokutei Ginou melonjak tajam, dari hanya 17 orang tiga tahun sebelumnya menjadi 471 orang pada 2025. Di tengah krisis tenaga kerja akibat penuaan penduduk dan minimnya pelamar lokal, tenaga asing seperti Alfi kini menjadi bagian yang tidak tergantikan.
Pihak fasilitas juga berupaya menciptakan lingkungan kerja yang ramah bagi pekerja asing. Menurut pengelola, staf asing menerima gaji setara dengan staf Jepang tanpa diskriminasi. Untuk pekerja Muslim seperti Alfi, fasilitas juga menyesuaikan pekerjaan selama masa puasa agar beban fisik berat dikurangi. Hal-hal seperti ini menjadi salah satu alasan mengapa tenaga kerja Indonesia bisa bertahan dan berkembang di lingkungan kerja Jepang.
Meski kini tampak sangat menyesuaikan diri dengan Jepang, Alfi mengaku sempat mengalami kesulitan pada awal kedatangannya, termasuk mencari bahan makanan halal dan menyesuaikan waktu salat saat bekerja shift malam. Namun seiring waktu, ia bisa beradaptasi. Bahkan, tidak hanya aktif di tempat kerja, Alfi juga terlibat dalam kegiatan masyarakat setempat. Pada Oktober tahun lalu, ia menjadi orang asing pertama yang menjuarai lomba teknik penggunaan alat pemadam kebakaran dalam ajang latihan pemadaman kebakaran swadaya di wilayah Nantan-Funai. Penampilannya bahkan dipuji karena suaranya lebih lantang daripada peserta Jepang.
