Orang Indonesia Pertama Yang Menjadi Supir Bus di Hokkaido Dengan Visa SSW

Seorang pria asal Indonesia menjadi sosok yang menarik perhatian di Kota Abashiri, Hokkaido, setelah direkrut sebagai sopir bus asing pertama di wilayah Hokkaido. Di tengah krisis kekurangan sopir yang semakin serius, kehadirannya dinilai bisa menjadi harapan baru bagi transportasi daerah.

Beliau datang dari Jakarta ke Abashiri setelah sebelumnya menjalankan usaha restoran dan bekerja sebagai guru bahasa Jepang di Indonesia. Ketertarikannya pada Jepang berawal dari kecintaannya pada musik Jepang atau J-POP. Dari situlah tumbuh keinginan untuk bekerja langsung di Jepang, hingga akhirnya ia mengetahui bahwa perusahaan Abashiri Bus membuka kesempatan bagi tenaga asing dan ia pun segera melamar.

Di Abashiri, beliau kini bersiap menjalani debut sebagai sopir bus. Ia telah melewati berbagai syarat ketat, termasuk kemampuan bahasa Jepang, serta berhasil mendapatkan SIM besar jenis 2 yang wajib dimiliki untuk mengemudikan bus komersial di Jepang. Saat ini ia masih menjalani pelatihan di jalan raya sambil mempersiapkan diri untuk mulai bertugas pada musim semi ini.

Kehadiran beliau menjadi sangat berarti bagi perusahaan bus setempat. Abashiri Bus selama ini mengoperasikan bus wisata, bus antarkota, bus rute, hingga bus sekolah. Namun, seperti banyak perusahaan transportasi lain di Jepang, mereka menghadapi masalah serius berupa kekurangan sopir dan menurunnya jumlah penumpang. Kondisi itu membuat keberlangsungan layanan transportasi di daerah menjadi semakin sulit dipertahankan.

Masuknya tenaga kerja asing seperti beliau menjadi mungkin setelah pemerintah Jepang pada tahun 2024 menambahkan sektor transportasi kendaraan bermotor, termasuk sopir bus, ke dalam skema visa kerja Tokutei Ginou. Kebijakan ini membuka jalan bagi warga negara asing untuk ikut mengisi kekurangan tenaga kerja di industri transportasi Jepang.

Bagi perusahaan, bertambahnya sopir berarti lebih banyak layanan yang bisa dijalankan dan peluang menjaga transportasi masyarakat daerah tetap hidup. Sementara bagi masyarakat, terutama di kota-kota kecil seperti Abashiri, kehadiran sopir asing bisa menjadi solusi nyata agar bus rute dan bus sekolah tetap beroperasi.

Beliau sendiri datang ke Jepang dengan tekad kuat. Ia meninggalkan keluarganya di Indonesia dan siap bekerja di Abashiri hingga maksimal lima tahun. Meski baru bergabung, ia disebut cepat akrab dengan rekan-rekan kerja karena fasih berbahasa Jepang dan Inggris. Para seniornya juga menilai ia punya pembawaan ceria, mudah bergaul, dan kemampuan bahasa Jepang yang sangat baik.

Bagi beliau, pekerjaannya bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga cara untuk berkontribusi bagi Jepang yang ia kagumi sejak lama. Ia ingin menjadi sopir yang ramah, membantu para penumpang, dan berguna bagi anak-anak maupun masyarakat yang menggunakan bus setiap hari.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa orang Indonesia semakin dipercaya untuk mengisi peran penting di Jepang, termasuk di bidang yang selama ini sangat identik dengan tenaga kerja lokal. Sebelumnya, perusahaan bus di Okayama juga sudah lebih dulu merekrut pria asal Indonesia sebagai sopir, dan kini ia disebut aktif bekerja di Tokyo dan wilayah lain. Artinya, peluang bagi orang Indonesia di sektor transportasi Jepang mulai benar-benar terbuka.

Dalam waktu dekat, beliau dijadwalkan memulai debut sebagai sopir bus sekolah yang dioperasikan atas penugasan dari Kota Abashiri. Kehadirannya bukan hanya menjadi langkah baru bagi perusahaan bus di Hokkaido, tetapi juga menjadi simbol bahwa orang Indonesia bisa mengambil peran penting dalam menjaga layanan publik Jepang tetap berjalan.

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close