Di tengah krisis tenaga kerja di bidang perawatan jalur kereta di Jepang, orang Indonesia mulai mendapat perhatian sebagai bagian penting dari solusi. JR East memulai program pelatihan khusus untuk tenaga asing berstatus Tokutei Ginou dengan target sekitar 100 orang per tahun, dan peserta asal Indonesia menjadi salah satu kelompok utama yang ikut dibina untuk mengisi kebutuhan di sektor perkeretaapian Jepang.
Program pelatihan ini dilaksanakan di pusat pelatihan milik JR East di Kota Shirakawa, Prefektur Fukushima. Sebanyak 113 peserta dari empat negara mengikuti program tersebut, termasuk dari Indonesia. Dalam pelatihan itu, mereka belajar menggunakan bahasa Jepang dalam situasi kerja nyata, memahami istilah teknis perkeretaapian, memindahkan rel di jalur praktik, serta mengoperasikan mesin untuk memadatkan batu kerikil di bawah rel.
Kehadiran peserta Indonesia menunjukkan bahwa SDM Indonesia kini mulai masuk ke bidang yang selama ini tergolong langka bagi tenaga asing, yaitu perawatan kereta api. Salah satu peserta asal Indonesia, Pandu Mukti Pranoto (24), mengatakan bahwa dirinya belajar betapa pentingnya keselamatan kerja dan ingin bekerja dalam jangka panjang di Jepang. Pernyataan ini menunjukkan kesiapan tenaga Indonesia untuk beradaptasi dengan budaya kerja Jepang yang sangat menekankan aspek keamanan dan ketelitian.
Sebagian besar peserta memang sudah punya pengalaman bekerja di Jepang melalui program ginou jisshu. Hal ini menjadi nilai tambah karena mereka tidak memulai dari nol. Dengan bekal pengalaman lapangan, kemampuan bahasa Jepang, dan pelatihan teknis tambahan, peluang orang Indonesia untuk berkarier lebih stabil di sektor perkeretaapian Jepang menjadi semakin terbuka.
Para peserta sendiri sudah memperoleh naitei dari total 47 perusahaan, mulai dari grup JR, perusahaan kereta swasta besar, hingga perusahaan mitra. Setelah mengikuti pelatihan selama sekitar empat minggu, mereka akan menghadapi ujian Tokutei Ginou pada bulan ini. Jika lulus, mereka dijadwalkan mulai bekerja pada musim panas tahun ini. Artinya, orang Indonesia bukan hanya ikut pelatihan, tetapi juga benar-benar berada di jalur masuk menuju pekerjaan resmi di industri perkeretaapian Jepang.
Bagi Jepang, langkah ini menjadi penting karena kekurangan tenaga kerja di bidang perawatan jalur semakin terasa. Sementara bagi Indonesia, ini membuka peluang baru bahwa tenaga kerja Indonesia tidak hanya dibutuhkan di sektor-sektor umum seperti manufaktur, kaigo, atau konstruksi, tetapi juga mulai dipercaya masuk ke sektor teknis khusus seperti railway maintenance.
JR East sendiri mengakui bahwa kebutuhan tenaga di bidang ini tidak lagi bisa ditopang oleh tenaga kerja Jepang saja. Karena itu, tenaga asing, termasuk dari Indonesia, dipandang sebagai bagian penting dari masa depan industri kereta api Jepang. Jika kebutuhan terus meningkat, program seperti ini bahkan bisa diselenggarakan beberapa kali dalam setahun.
Sumber: https://www.jiji.com/jc/article?k=2026032000493&g=soc
