IKUSEI SHURO: Strategi Perusahaan Kontruksi di Miyagi Dalam Menyambut Program Baru 2027

Menjelang dimulainya sistem baru 育成就労 (Ikusei Shurou) pada tahun 2027, banyak perusahaan di Jepang merasa khawatir karena pekerja asing akan lebih mudah berpindah kerja. Namun berbeda dengan kekhawatiran tersebut, sebuah perusahaan konstruksi di Kesennuma, Prefektur Miyagi justru melihat perubahan ini sebagai peluang untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan tenaga kerja asing, khususnya dari Indonesia.

Perusahaan tersebut sejak awal telah menerima banyak pekerja Indonesia melalui program magang (技能実習). Dari pengalaman itu, mereka menyadari bahwa hubungan kerja tidak bisa hanya berfokus pada pekerjaan, tetapi juga harus mencakup kehidupan sehari-hari. Karena mayoritas pekerja Indonesia beragama Islam, perusahaan membangun lingkungan yang ramah Muslim, seperti menyediakan tempat ibadah dan mendirikan restoran dengan menu tanpa babi dan alkohol. Upaya ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan kepercayaan antara pekerja Indonesia dan perusahaan.

Hubungan ini tidak berhenti di Jepang saja. Perusahaan juga mengembangkan model bisnis yang menghubungkan Jepang dan Indonesia secara jangka panjang. Para pekerja Indonesia yang belajar teknik konstruksi di Jepang diharapkan dapat kembali ke Indonesia dan berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur di negara asalnya. Dengan demikian, tercipta siklus hubungan antara manusia dan industri lintas negara.

Bahkan, dari hubungan yang terjalin dengan para pekerja Indonesia, muncul ide untuk ekspansi bisnis ke Indonesia. Perusahaan mulai mengembangkan teknologi daur ulang aspal di Indonesia, bekerja sama dengan mitra lokal dan pemerintah setempat. Proyek ini tidak hanya membawa teknologi Jepang ke Indonesia, tetapi juga menciptakan peluang kerja dan transfer pengetahuan bagi masyarakat lokal.

Dalam perjalanan tersebut, perusahaan menghadapi berbagai tantangan, termasuk regulasi dan sertifikasi di Indonesia. Namun melalui kerja sama dengan lembaga seperti JICA, proyek tersebut akhirnya berhasil berkembang dan mendapatkan pengakuan resmi. Hingga kini, teknologi yang dikembangkan di Indonesia bahkan kembali diaplikasikan di Jepang dalam bentuk inovasi ramah lingkungan.

Saat ini, pekerja Indonesia yang kembali ke Jepang melalui skema 特定技能 juga menjadi bagian penting dari perusahaan. Mereka bukan hanya tenaga kerja, tetapi juga jembatan budaya dan penghubung antara dua negara.

Dengan hadirnya sistem Ikusei Shurou, yang memungkinkan pekerja berpindah kerja setelah masa tertentu, perusahaan ini justru melihat bahwa kunci keberhasilan bukan lagi pada “menahan pekerja”, tetapi pada “dipilih oleh pekerja”. Perusahaan percaya bahwa jika mampu memberikan nilai lebih—baik dari sisi keterampilan, pengalaman hidup, maupun hubungan manusia—maka pekerja Indonesia akan tetap memilih perusahaan tersebut.

Pendekatan ini menunjukkan perubahan paradigma dalam hubungan kerja antara Jepang dan Indonesia. Bukan sekadar hubungan tenaga kerja, tetapi menjadi hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan, di mana pekerja Indonesia mendapatkan keterampilan dan pengalaman, sementara perusahaan Jepang mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas serta peluang bisnis global.

Ke depan, sistem Ikusei Shurou dipandang sebagai titik balik penting. Sistem ini mendorong perusahaan untuk bertransformasi menjadi lebih menarik bagi pekerja asing, sekaligus memperkuat hubungan antarnegara melalui pertukaran manusia, teknologi, dan nilai.

Sumber: https://smbiz.asahi.com/article/16388719

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close