Pasangan Asal Indonesia Lulus Kokka Shiken Perawat di Jepang, Kini Bisa Bekerja dan Tinggal Di Jepang Tanpa Batas Waktu

Pasangan asal Indonesia, Ramli (29) dan Sofia (24), yang bekerja di Rumah Sakit Fukuyu di kota Nisshin, wilayah Kitashinmachi, lulus ujian nasional kaigo fukushishi (perawat kesejahteraan lansia) pada bulan Maret. Meskipun sempat kesulitan dengan kanji yang tidak familiar, kerja keras mereka selama satu tahun membuahkan hasil. Di tengah krisis kekurangan tenaga kerja di sektor keperawatan Jepang, keduanya menyatakan tekad: “Kami ingin bekerja di Jepang selama mungkin.” (Laporan oleh Naoki Aoyama)

Ramli sebelumnya menempuh pendidikan di universitas keperawatan di Indonesia dan juga belajar di sekolah bahasa Jepang karena tertarik untuk bekerja di Jepang. Ia datang ke Jepang sebagai peserta magang (ginou jisshuusei) pada 2019 dan mulai bekerja di rumah sakit yang sama. Sementara itu, Sofia yang pernah merawat kakeknya, juga ingin memperdalam pengetahuan keperawatan dan mulai bekerja sebagai magang pada tahun 2021.

Keduanya saling mengenal karena belajar di sekolah bahasa Jepang yang sama, dan kemudian menikah pada tahun 2023. Status magang maupun tokutei ginou (visa kerja spesifik level 1) hanya mengizinkan bekerja di Jepang maksimal 5 tahun. Namun, setelah lulus ujian kaigo fukushishi, mereka dapat memperoleh visa “perawat” dan bekerja tanpa batas waktu di Jepang. Dengan dukungan dari lingkungan sekitar, keduanya memutuskan untuk mengikuti ujian tersebut.

Ramli mengenang, “Bagian yang paling sulit adalah kanji. Sama sekali tidak bisa masuk ke kepala.” Meski bisa berkomunikasi secara lisan, memahami teks-teks teknis dalam bahasa Jepang menjadi tantangan tersendiri. Ujian kaigo fukushishi sepenuhnya dalam bahasa Jepang dan mencakup lebih dari 120 soal pilihan ganda dari berbagai topik, seperti “Pemahaman tentang pertumbuhan dan penuaan” serta “Dasar-dasar keperawatan”.

Bagi orang asing, ujian ini adalah rintangan besar. Di rumah sakit tersebut, sebelumnya hanya satu orang asing yang pernah lulus. Ramli dan Sofia belajar setiap hari selama 2–3 jam sepulang kerja, bahkan belajar sebelum masuk shift malam. Mereka saling menyemangati dengan kata-kata seperti “Kamu pasti bisa. Jangan khawatir,” hingga akhirnya keduanya berhasil lulus dalam sekali coba.

Ramli tersenyum saat berkata, “Hal paling menyenangkan adalah ketika pasien bilang ‘terima kasih’.” Sementara Sofia mengatakan, “Ini pekerjaan yang memberi rasa aman bagi pasien karena kita memahami perasaan mereka—itulah letak kepuasannya.” Menurut staf rumah sakit, keduanya dikenal memiliki sifat yang tenang dan rajin bekerja tanpa mengeluh. Mereka juga dipercaya oleh sesama staf maupun pasien.

Di rumah sakit ini, sekitar 35 dari seluruh tenaga perawat—atau sekitar setengah dari total—adalah orang asing. Perwakilan dari Yayasan Medis Fukuyukai (Nagoya), yang mengelola rumah sakit tersebut, menyatakan, “Karena sulit merekrut tenaga kerja Jepang, rumah sakit sangat bergantung pada tenaga kerja asing. Jika diketahui bahwa mereka bisa mendapatkan sertifikasi resmi, itu bisa menjadi daya tarik besar bagi calon tenaga kerja asing lainnya.”

Sumber: https://www.chunichi.co.jp/article/1074614?rct=aichi

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close