Pemerintah Jepang berencana memperketat sistem penukaran SIM asing (“Gaimen Kirikae”) karena penggunaannya berkembang di luar perkiraan awal. Awalnya, sistem ini ditujukan bagi warga Jepang yang kembali dari luar negeri, seperti diplomat dan pekerja expatriat, namun kini banyak dimanfaatkan oleh warga asing, terutama dari Vietnam dan China.
Ledakan Permintaan
Dalam 5 tahun terakhir, jumlah pemohon dari Vietnam naik 2,7 kali dan dari China naik 1,5 kali. Total permintaan Gaimen Kirikae meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir, menyebabkan penjadwalan di pusat-pusat pengujian seperti di Tokyo menjadi padat hingga 2–3 bulan.
“SIM Jepang Murah dan Menguntungkan”
Salah satu alasan meningkatnya permintaan adalah karena SIM Jepang sangat dihargai secara internasional. Jepang tergabung dalam Konvensi Jenewa, yang memungkinkan pemegang SIM internasional Jepang untuk mengemudi di sekitar 100 negara. Karena China dan Vietnam bukan anggota konvensi ini, penukaran SIM di Jepang menjadi “jalan pintas” untuk mendapatkan akses internasional.
Ujian Terlalu Gampang?
Ujian tertulis Gaimen Kirikae hanya terdiri dari 10 soal dan cukup menjawab 7 soal benar untuk lulus—dengan tingkat kelulusan sekitar 90%. Ini sangat jauh dibandingkan dengan ujian SIM biasa Jepang yang memerlukan 90 jawaban benar dari 95 soal. Ujian praktik pun hanya sekitar 10 menit di area tertutup, tanpa uji coba di jalan raya.
Contoh soal meliputi:
- “Apakah boleh melaju saat lampu merah?”
- “Apakah boleh mengemudi setelah minum alkohol jarak dekat?”
Kekhawatiran dan Revisi
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa sistem tersebut dijadikan “celah” oleh warga asing, bukan sesuai niat awalnya. Pemerintah Jepang kini mempertimbangkan:
- Hanya mengizinkan pemohon dengan bukti tempat tinggal resmi (misalnya salinan Juminhyo),
- Melarang wisatawan untuk menukar SIM,
- Memperbanyak soal ujian dan memperketat proses verifikasi keterampilan mengemudi.
Namun, ada juga suara dari politisi yang mengingatkan bahwa Jepang sedang mengalami krisis tenaga kerja, terutama di sektor yang membutuhkan SIM, dan warga asing sangat membantu dalam hal ini.
Catatan:
Indonesia tidak termasuk dalam negara pengakuan SIM Jepang. Jadi, untuk pemohon dari Indonesia, proses 外免切替 (pengalihan SIM asing) tidak semudah negara-negara yang punya perjanjian pengakuan SIM (seperti uiian teori 10 soal). Mereka harus lulus baik ujian teori penuh maupun praktik yang jauh lebih susah.
