Kebakaran Hutan di Iwate: Orang Indonesia Yang Mengungsi, Dan Bantuan Dari Perusahaan

Sebuah kebakaran hutan yang terus berlangsung di Kota Ōfunato, Prefektur Iwate, menyebabkan beberapa wilayah terkena perintah evakuasi. Di tengah situasi ini, sebuah perusahaan perikanan setempat, Marukatsu Suisan, mengambil langkah inisiatif dengan menyediakan tempat evakuasi khusus bagi pekerja asing mereka.

EVALUASI PEKERJA INDONESIA DARI PERUSAHAAN PERIKANAN

Perusahaan perikanan Marukatsu Suisan, yang berlokasi di Distrik Sanriku, Kota Ōfunato, mempekerjakan 12 warga negara Indonesia dengan status visa Tokutei Ginou (特定技能).

Setelah kebakaran hutan terjadi, asrama tempat tinggal mereka juga masuk dalam zona evakuasi. Namun, perusahaan menghadapi tantangan dalam mengungsikan mereka ke tempat evakuasi umum, karena adanya perbedaan budaya dan kebiasaan makan yang dapat menyulitkan mereka beradaptasi dengan lingkungan baru.

Sebagai solusinya, perusahaan mengambil langkah berikut:

  1. Mengubah restoran miliknya menjadi tempat evakuasi sementara.
    Menyediakan apartemen khusus bagi pekerja perempuan di dalam kota.
  2. CEO perusahaan turut membantu kehidupan sehari-hari para pekerja.
  3. Di restoran yang digunakan sebagai tempat evakuasi, direktur Jepang turut menginap dan menyiapkan makanan halal dengan bahan makanan yang telah disediakan perusahaan, menghindari penggunaan daging babi untuk menghormati kepercayaan para pekerja Muslim.

Selain itu, karena saat ini merupakan bulan suci Ramadan, para pekerja Indonesia tetap menjalankan ibadah puasa dengan mencuci badan dan berdoa pada waktu yang telah ditentukan.

KESULITAN DAN HARAPAN PARA PEKERJA

Salah satu pekerja Indonesia, Dede Setya, mengungkapkan perasaannya,
“Saya khawatir dengan kebakaran hutan dan pekerjaan di masa depan, tetapi dibandingkan dengan tinggal di tempat evakuasi umum yang penuh dengan orang asing, di sini saya merasa lebih tenang.”

CEO Marukatsu Suisan, Akio Sasaki, menyatakan tekadnya untuk terus membantu para pekerja asing,
“Mereka hanya bisa mengandalkan perusahaan ini, jadi saya merasa bertanggung jawab untuk mendukung mereka. Saya ingin lebih banyak orang memahami tantangan yang dihadapi pekerja asing saat terjadi bencana dan bersama-sama mencari solusi terbaik untuk evakuasi mereka.”

DAMPAK EKONOMI BAGI PERUSAHAAN

Saat ini, musim panen rumput laut wakame dan perikanan isada yang menjadi bisnis utama Marukatsu Suisan terganggu akibat kebakaran hutan, sehingga perusahaan tidak dapat beroperasi seperti biasa.

Selain itu, restoran milik perusahaan yang kini dijadikan tempat evakuasi terpaksa tutup sementara, menyebabkan kerugian sekitar 10 juta yen (sekitar Rp1 miliar) per minggu.

Di sisi lain, perusahaan tetap menanggung biaya listrik, air, serta gaji para pekerja. Sasaki mengungkapkan kekhawatirannya,
“Saya ingin terus mendukung mereka, tetapi dana perusahaan terbatas. Jika kebakaran terus berlanjut dan situasi ini berkepanjangan, kami akan menghadapi kesulitan besar.”

Meski demikian, ia tetap berkomitmen membantu para pekerja asing,
“Bagi saya, mereka adalah seperti keluarga sendiri. Tanpa mereka, industri perikanan di daerah ini akan mengalami kemunduran. Saat proses pemulihan nanti, tenaga mereka sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, saya ingin memastikan mereka bisa menjalani masa evakuasi ini tanpa merasa terbebani.”

DUKUNGAN DARI PERUSAHAAN LAIN DAN WARGA SETEMPAT

Bantuan bagi pekerja asing juga datang dari perusahaan perikanan besar lainnya, Kamata Suisan di Ōfunato.

Ketika perintah evakuasi dikeluarkan pada 27 Februari 2025, perusahaan ini membuka penginapan yang mereka sewa sebagai tempat evakuasi sementara bagi sekitar 40 pekerja asing, tanpa memungut biaya.

Selain itu, warga setempat yang mengetahui situasi ini turut memberikan dukungan dengan menyumbangkan beras dan sayuran untuk membantu kebutuhan para pekerja asing.

CEO Kamata Suisan, Hitoshi Kamata, mengatakan,
“Sebagai orang asing, mereka pasti merasa lebih khawatir dibandingkan warga Jepang dalam situasi sulit ini. Jika tidak memiliki tempat berlindung, mereka akan kehilangan arah. Kami ingin memastikan mereka bisa merasa aman dan tenang.”

Pentingnya Kesiapan untuk Evakuasi Pekerja Asing

Menurut data Biro Tenaga Kerja Iwate, per Oktober 2024:

  • 1.253 perusahaan di Prefektur Iwate mempekerjakan tenaga asing.
  • Jumlah pekerja asing mencapai 7.866 orang, angka tertinggi dalam sejarah prefektur ini.

Sementara itu, data dari Badan Imigrasi Jepang menunjukkan bahwa di Ōfunato sendiri, terdapat 267 pekerja asing dengan visa Gino Jisshu (技能実習生) dan Tokutei Ginou (特定技能) per Juni 2024.

Terkait dengan tantangan evakuasi pekerja asing, Kenzo Yamaji, direktur dari Pusat Dukungan Multikultural Jepang, menyampaikan,
“Penting untuk membangun hubungan yang lebih erat antara pekerja asing dan komunitas lokal sejak awal, agar mereka bisa saling membantu saat terjadi bencana. Selain itu, perlu adanya makanan yang sesuai dengan budaya mereka serta informasi evakuasi dalam berbagai bahasa agar mereka merasa nyaman di tempat pengungsian.”

search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close